Salah satu penulis yang selalu saya tunggu-tunggu tulisan
terbarunya adalah Pak Rhenald Kasali. Tulisannya yang berjudul “Sampah” seolah
menggugah kesadaran untuk mulai berbuat sesuatu dalam mengurangi sampah rumah
tangga yang dibuang begitu saja.
Sejak 3 minggu terakhir ini saya berekperimen untuk membuat
kompos sendiri dari hasil sampah organic rumah tangga. Sampah yang akan
“ditanam” yaitu:
- - Sisa makanan matang
-
- Sayur-sayur busuk
-
- Buah-buahan busuk
-
- Makanan kadaluarsa
Yang
tidak termasuk sampah orgnik yang akan ditanam yaitu:
- - Tulang hewan
-
- Duri ikan
-
- Isi buah-buahan yang cukup besar dan keras
Item-item
diatas akan cukup susah terurai menjadi kompos sehingga tidak masuk kategori
layak “tanam”. Sedangkan untuk daun-daunan tidak termasuk karena akan digunakan
sebagai isian lubang biopori (tulisan yang lain).
Untuk
membuat kompos, media yang digunakan adalah ember bekas cat tembok 19L.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Cuci bersih ember bekas cat. Buat lubang kurang
lebih seukuran telunjuk dengan jumlah secukupnya didasar ember untuk sarana
menetes air hasil residu sampah.
2. Taburkan tanah/kompos/media tanam didasar ember
3. Masukkan sampah organic yang akan “ditanam”.
Untuk semua sampah organic yang akan ditanam, cacah terlebih dulu menjadi
ukuran kurang lebih 2cm agar lebih mudah terurai
4. Taburkan lagi tanah/kompos/media tanam diatas
sampah organic.
5. Tutup dengan baik agar tidak kemasukan air hujan
6. Lakukan pembalikan/pengadukan isi ember setiap
satu minggu sekali agar mendapat asupan oksigen
7. Panenlah kompos 2 bulan setelah penanaman
terakhir.
Sebaiknya
ember tidak diisi sampai penuh agar terjadi sirkulasi.
Setelah
1 minggu, ember pertama telah terisi ¾ dikarenakan operasi pembersihan kulkas
sehingga didapatkan bakalan kompos yang cukup banyak. 2 minggu kemudian, ember
kedua telah berisi ¾ juga, dan ember pertama berisi banyak ulat. Sempat mengira
bahwa proses komposisasi gagal, namun setelah membaca beberapa literatur
ternyata memang normal diproses pengkomposan terdapat ulat.
Saat ini ember
pertama telah merosot isinya dan hanya tinggal separo. Mungkin karena proses
pemadatan dan proses penguraian.
Sempat
ada ketakutan bahwa proses komposisasi ini akan menghasilkan bau yang cukup
menyengat dan akan dikomplen oleh tetangga karena ember saya letakkan dipinggir
jalan diatas selokan. Namun ternyata tidak ada bau sama sekali dan juga tidak
ada lalat yang datang (kecuali saat proses pembalikan/pengadukan). Masih
menunggu sampai akhir Januari untuk ember pertama dan pertengahan februari
untuk ember kedua untuk melihat apakah panen kompos nanti berhasil atau tidak.
Dan mulai besok akan dimulai proses ember ketiga.


No comments:
Post a Comment