Monday, December 21, 2015

Pembuatan kompos tanpa lahan



     Salah satu penulis yang selalu saya tunggu-tunggu tulisan terbarunya adalah Pak Rhenald Kasali. Tulisannya yang berjudul “Sampah” seolah menggugah kesadaran untuk mulai berbuat sesuatu dalam mengurangi sampah rumah tangga yang dibuang begitu saja.
Sejak 3 minggu terakhir ini saya berekperimen untuk membuat kompos sendiri dari hasil sampah organic rumah tangga. Sampah yang akan “ditanam” yaitu:
-     - Sisa makanan matang
-          - Sayur-sayur busuk
-          - Buah-buahan busuk
-          - Makanan kadaluarsa
Yang tidak termasuk sampah orgnik yang akan ditanam yaitu:
        - Tulang hewan
-          - Duri ikan
-          - Isi buah-buahan yang cukup besar dan keras
     Item-item diatas akan cukup susah terurai menjadi kompos sehingga tidak masuk kategori layak “tanam”. Sedangkan untuk daun-daunan tidak termasuk karena akan digunakan sebagai isian lubang biopori (tulisan yang lain).
Untuk membuat kompos, media yang digunakan adalah ember bekas cat tembok 19L. 
 
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
      1. Cuci bersih ember bekas cat. Buat lubang kurang lebih seukuran telunjuk dengan jumlah secukupnya didasar ember untuk sarana menetes air hasil residu sampah.  
      2. Taburkan tanah/kompos/media tanam didasar ember
      3. Masukkan sampah organic yang akan “ditanam”. Untuk semua sampah organic yang akan ditanam, cacah terlebih dulu menjadi ukuran kurang lebih 2cm agar lebih mudah terurai
      4. Taburkan lagi tanah/kompos/media tanam diatas sampah organic.
      5. Tutup dengan baik agar tidak kemasukan air hujan
      6. Lakukan pembalikan/pengadukan isi ember setiap satu minggu sekali agar mendapat asupan oksigen
      7. Panenlah kompos 2 bulan setelah penanaman terakhir.
Sebaiknya ember tidak diisi sampai penuh agar terjadi sirkulasi.
     Setelah 1 minggu, ember pertama telah terisi ¾ dikarenakan operasi pembersihan kulkas sehingga didapatkan bakalan kompos yang cukup banyak. 2 minggu kemudian, ember kedua telah berisi ¾ juga, dan ember pertama berisi banyak ulat. Sempat mengira bahwa proses komposisasi gagal, namun setelah membaca beberapa literatur ternyata memang normal diproses pengkomposan terdapat ulat. 
 
Saat ini ember pertama telah merosot isinya dan hanya tinggal separo. Mungkin karena proses pemadatan dan proses penguraian.
     Sempat ada ketakutan bahwa proses komposisasi ini akan menghasilkan bau yang cukup menyengat dan akan dikomplen oleh tetangga karena ember saya letakkan dipinggir jalan diatas selokan. Namun ternyata tidak ada bau sama sekali dan juga tidak ada lalat yang datang (kecuali saat proses pembalikan/pengadukan). Masih menunggu sampai akhir Januari untuk ember pertama dan pertengahan februari untuk ember kedua untuk melihat apakah panen kompos nanti berhasil atau tidak. Dan mulai besok akan dimulai proses ember ketiga.


No comments:

Post a Comment